Sebagai makhluk atau ciptaan, manusia bersifat mortal (fana), ia hanya memiliki waktu terbatas. Beberapa orang menyadari betul akan hal itu dan mereka memilih untuk meninggalkan legacy untuk orang yang sesudahnya. Yaitu dengan sekedar meninggalkan sebuah kesan atau kenangan di dalam pikiran orang lain yang mereka kenal. Mereka biasa melakukannya dengan cara sebanyak-banyaknya berbuat baik kepada sebanyak banyaknya orang. Mereka paham dengan pepatah “Hancur badan dikandung tanah, budi baik terkenang jua”.
Sayangnya ‘jejak’ yang tertinggal di memori orang lain pun tidak lebih abadi dari pemilik memori itu, ia akan pudar sedikit demi sedikit serta hilang secara perlahan lahan. Namun hitamnya tinta diatas putihnya kertas memiliki kemampuan lain. Jejak yang tertuang dalam sebuah tulisan lebih mampu bertahan daripada memori dalam kepala makhluk yang fana. Itulah yang hanya dilakukan segelintir orang yang disebut PENULIS.
Saya mempunyai keyakinan, bahwa menulis bukan hanya sekedar menjadi masyhur dan populer, bukan pula tentang seberapa besar royalti yang didapat, ataupun hobi dan passion yang tersalurkan. Lebih dari itu, ia adalah tentang meninggalkan kesan baik. Ia adalah berkarya yang bermanfaat. Ia adalah mempengaruhi orang lain untuk berbuat kebaikan. Ia adalah dakwah mengajak kepada Ilahi. Ia adalah berkontribusi dalam evolusi dunia.
Lebih jauh lagi, bagi seorang Muslim, goresan pena adalah pertaruhan nasib di hari kemudian. Ia bisa menjadi amal jariyah—ilmu yang bermanfaat yang pahalanya terus mengalir deras laksana sungai, bahkan saat penulisnya telah terkubur sunyi di liang lahat. Namun, ia juga bisa menjadi dosa jariyah jika yang ditulis adalah kesesatan. Oleh karena itu, blog ini bukan sekadar wadah ekspresi, melainkan sebuah ikhtiar kecil untuk memastikan bahwa jejak yang tertinggal adalah jejak cahaya, sebuah hujjah (bukti) pembelaan diri di hadapan Penguasa Waktu kelak.
Maka kenapa kita (saya dan Anda) harus menulis? Karena ia seperti membuat umur kita abadi dan nama kita kekal. Nama yang akan tetap hidup meski raga telah hancur. Nama yang akan tetap dikenang meski keluarga telah tiada. Nama yang akan bertahan dalam waktu. Sebuah angan yang ingin dicapai oleh semua orang; KEABADIAN. Ia adalah sesuatu yang bisa kita capai dengan MENULIS.
Abu Azzam Al-Banjary